Baiklah, saat itu bukan rahasia umum lagi bahwasanya seseorang ingin dapat lebih mapan untuk sebuah karirnya. Dan merantau adalah jalan satu-satunya mungkin pada saat itu. Keputusan merantau ini sudah ada dalam benak saya sejak saya duduk di bangku kuliah semester 4. Jadi bisa dibilang, ini sudah terencana. Namun lagi-lagi yang menjadi pertanyaan adalah, "oleh sebab apa saya bisa sebegitu hebatnya mengalami depresi hingga mengharuskan saya untuk berobat kemanapun, tapi masih nihil pada saat itu".
Sekali lagi, ini bukan sesuatu tanpa rencana. Sebab keluarga tau saya manusia yang seperti apa. Saya manusia yang nggak bisa, sedikit saja hidup sepi/sendiri. Saya lebih suka bersosialiasi, sebab disana kita akan tau banyak, ada banyak ilmu, entahlah kesendirian itu jika saya tidak benar-benar membutuhkan ingin sendiri, saya memang tidak betah sendiri. Dan sendiri itu lebih gampang ngelakuin maksiat. You know me better than someone else. Makanya saya tidak suka sendiri.
Throwback, setelah masukin lamaran kemarin saya memang harus nunggu. Dan saat menunggu itu, memang masalahnya saya sudah ngaku saya salah besar. Setelah ngaku, saya pikir semua akan berjalan mulus tanpa halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran (aha uhh sun-gokong). Ternyata saya salah, ternyata saya keliru. Yang ada adalah tiada sedetikpun tanpa memikirkan anda, iya kamu.
Sebab apa? Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, jika itu hilang/tiada memang benar-benar ada rasa kehilangan. Ini berlaku untuk semua, bukan saya saja ya. Jika tidak percaya silakan browsing ke mbah Google.
Disamping itu, waktu itu seperti berjalan lambat sekali. Menunggu panggilan kerja ditambah menunggu anda benar-benar paham kenapa saya harus ngaku. Jadi rasanya pikiran ini diharuskan memikir kedua kubu tersebut. Bisa bayangkan jika anda menjadi saya pada saat itu? Dan selain itu, sepertinya butuh motivasi juga di saat saya lagi jatuh-jatuhnya. Mengapa saya berani mengatakan jatuh? Sebab ngaku itu butuh rencana juga, nggak se-enak udel saya ketika saya harus fokus bekerja-saya harus sudah selesai dengan ini semua. Nggak seperti itu. Itu terlalu sadis menurut saya.
Ini semua sudah seperti seharusnya. Jika saya teruskan saya akan semakin pintar dalam beralasan, saya semakin naik ke level kelas kakap untuk kategori pemain terbaik tentunya. Dan mau sampai kapan membohongi diri serta orang lain? I just wanna be me; myself. So if you love me; please love the right of me. Saya sudah payah untuk mencari-cari alasan apalagi, saat anda mengajak bertemu, anda bilang anda tidak akan bisa tanpa saya. Did you know what I felt? Saya seperti dikejar-kejar rentenir. Kapan woy bayar hutang? Dan sepertinya itu yang membuat saya sering merasakan pusing/migrain, masuk angin, magh kambuh (mungkin). Sebab kagak bisa hidup santai, oke bisa dibilang nyaman namun ketika dihadapkan sama itu pertanyaan-wes jangan tanya rasanya kek apaan. Yaudah ding bapernya.
Dan setelah nunggu 3 bulan, akhirnya dapet panggilan juga. Ada rasa nano-nano disana. Bahagia iya, sedih pasti. Bahagia karena sudah mau kerja dengan positif mindset berharap kalo udah sibuk kerja nanti semoga anda tidak sepersekian detik datang dalam pikiran saya (itu harapan serta keyakinan) but the fact? Adoh-adoh... jkt-po emang adoh:jauh. Tapi bayangan anda selalu dekat dengan saya. Sedihnya adalah saya berharap anda dapat menjadi kawan, selalu ada buat saya, bukan sebagai lawan. Nggak selalu sih, emang harusnya nggak selalu. Tapi, ada gitu aja. Salah lagi?
Baiklah, dan saat itu mulailah masuk kerja. Saya ingat-ingat lagi ya. Sebab sebagian memory hilang setelah diupgrade (dari windows 7 ke 10). Sebelum di solo udah beberapa orang pintar tapi Allah Maha baik tunjukin kami jalan ke Solo. Percaya, sebab ya kota itu memang sudah hits untuk penyembuhan penyakit mental dkk-nya. Saya akhirnya nggak pengen bagaimana dunia kerja saya saat itu. Saya benar-benar ingin melupakannya. Yang saya tau, ketika itu memang benar-benar menguras apapun. Tenaga, pikiran, serta waktu harus buru-buru (aku orangnya santai). Dan walaupun begitu memang untuk masalah gaji menjanjikan. Tapi kembali lagi, for me better than loving my body daripada gaji. Percuma gaji banyak tapi tubuh saya kurus kering kerontang nggak bisa santai. Aduh, mau kemana kalo nggak ke kuburan lebih awal?heeuu
Saat itu uda genap 3 bulan ya, di bulan terakhir nggak nyampe habis tanggal saya uda ngrasain sesuatu yang aneh pada diri saya. Saat itu makan sehari cuma malem doang. Sebab uda kenyang di depan pc, meeting kek orang penting seminggu 3x, dan meetingnya juga nggrambyang yang setiap karyawan harus bisa nyimpulin secara personality hari ini dpt meeting apa-kek gimana, evaluasi tiap hari, masalah terus dengan penerbangan, delayed terus sampe mati masalahnya mah. Wkwk hasudahlah. Its not my fault. Makan sehari satu kali, memikirkan pekerjaan berkali-kali. Ketika waktu luang (sabtu-minggu) pikiran tentang anda datang kembali. Hoh, bagaimana tidak depresi coba??!
Ya, merasa anehnya begini. Itu udah akhir bulan, dan saya uda nggakmau lagi mikir kerjaan. Saya telpon kakak saya yang di Taiwan. Saya bilang bahwa saya baik-baik saja, tapi saya pengen pulang. Katanya saya bicara ngelantur sekali. Yang mau ditembak polisi, nanti gimana kalo saya dipenjara? Nanti gimana kalo ada denda sebab resign sebelum genap kontrak 2 th? Pokoknya kelakuan saya membuat orang rumah khawatir. Lalu saya dijemput pulang oleh kakak ipar saya. Sebab pikiran saya uda nggak normal itu. Uda kurang sesendok teh mungkin.
Dan sampai rumah, saya cerita begini juga sambil mengingat dikit-dikit juga. Sampai rumah ditangisin sama mamah. You know that mamah is the one who's very very happy when I got this job. Mungkin mikirnya beliau, beliau uda dapet jawaban doa dari Allah. Tapi mah, anakmu ngenes nengkono. Mamah taunya cuma cover doang, emang saya berkabar selalu baik-baiknya aja ceritanya. Iya keles bikin ortu kepikiran adoh paran. Ya itu, sampai rumah ditangisin mamah. Kata beliau, kenapa bisa seperti ini? Rekan kerja yang membuatmu nak? Seperti itulah kira-kira. Namun, saat itu saya sudah jadi manusia bisu. Tak ada jawaban apapun dari seorang seperti saya.
Orang kalo uda depresi, uda nggak butuh apapun. Mau kiamat kek, gempa bumi banjir, silakan. Orang depresi nggak memiliki rasa apapun. Bisa dibilang hidup tapi mati. Mati rasa mati nafsu matilah semua pokoknya. Dan ibu adalah manusia setia yang saya punya. Keluarga juga selalu support pada saat itu. Orang pinter mbah kyai mbah ene adewe, semua nggak ada yang mampu ngobati saya. Dan sudah sampai titik parah. Keinginan saya cuma mati, uda bunuh diri men. Uda nelen apa apa ya, cairan pembersih porselen kamar mandi. Pokoknya sampe pintu kamar itu dicopot semua sama mas. Keseharian cuma diem dan mainan selimut. Kalo denger suara adzan, bencinya minta ampun. Semua kata-kata indah keluar. Ini fase saya membenci Tuhan, Allah swt. Dan mamah saat saya sudah begini, beliau cuma bisa bilang "istighfar nduk, istighfar"...(sambil nangis meluk cium saya). Dan kejadian kek gini berlangsung selama 3 bulan lamanya. Hari-hari itu hanya saya gunakan untuk topo (berdiam diri). Dan saya tidak tidur sama sekali. Dan dalam dunia kesehatan, mending tidak makan daripada tidak tidur. Insom banget pokoknya saat itu. Makan disuapin, mandi dimandiin, sholat sendiri tapi nggak baca apapun. Penting ketika mamah nyuruh sholat, saya berangkat. Ketika nyuruh ngajipun, Al-qur'an juga saya buka. Namun, cuma saya pentelengi. Saya sudah kena depresi.
Dan suatu hari ada tetangga saya yang merekomendasi kalo ke Dr. Yusfik ke Solo insyaAllah sembuh. Tanpa babibu lagi mas saya dan keluarga langsung cus. Disana saya diterapi dimotivasi ditaleni juga sih (katanya). Waduh kalo yang di Solo ini saya memang benar-benar nggak ingat ngapain aja. Pokok self healing-nya orang depresi ya begitu deh. Disana selama seminggu. Syukur alhamdulillah banyak perubahan. Sudah mau keluar kamar, makan uda mau sendiri, ke kamar mandi sendiri, alhamdulillah ya daripada yang sebelumnya.
Dan disini yang mba saya heranin tu, seseorang seperti saya yang notabene santai selalu ceria, sholat wajib sholat sunah ngaji serta juga orang yang suka sosialisasi (ini kata mba, diem lu) kok bisa ya kena depresi? Ya mungkin lagi-lagi manusia memang harus diuji untuk naik lagi ke level yang lebih tinggi. Ya gitu aja kan enak? Awas tiati, depresi nggak pernah milih mau kita sholat enggak. Ngaji enggak. Jahat ya depresi? Yaudah, semoga cukup sekali depresinya, kedepan lebih jaga diri. Jadi gini, bener juga ini loo. Jangan mencintai seseorang dengan sepenuh jiwa. Sebab jika orang itu pergi kamu jadi sakit jiwa. Jadi cukup mencintai sepenuh hati saja. Jika pergi, maka cuma sakit hati nggak sakit jiwa. Isn't right this quote? :D
--- thanks for reading this story.
Blog yang tidak penting. Judulnya saja malei, apalagi isinya. Semua yang ada di pikiran, saya tuangkan. Tulisan seperti panggilan kejiwaan. Tertoreh njlimet ngasi mumet. Blog ini saya buat untuk media belajar apapun bidangnya kecuali Matematika (sering gapake logika haha). Apapun itu tulisan saya, insyaAllah ada pelajaran di dalamnya. Apabila ada kesamaan dalam hal apapun itu, saya pribadi mohon maaf sekali. Dan akhirnya, ayo nge-blog kawan. Semoga bermanfaat. Aamiin ~
Selasa, 07 Agustus 2018
Aku Saat Mengerjakan Ujian
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar