Tampilkan postingan dengan label kisahmotivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahmotivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Firasat Membawa Nikmat

Seperti hari-hari sebelumnya, jika tidak sedang keluar rumah shalat Isya berjamaah adalah hal yang biasa kulakukan. Bukan di masjid tapi di sebuah mushola kecil yang cukup menampung beberapa jamaah yang banyaknya hanya di waktu Maghrib saja.
Malam ini hujan rintik-rintik di luar tak menyulutkan niatku untuk pergi berjamaah. Aku katakan pada diriku, "ini hanya hujan rintik dan hujan air, itu semua tidak akan menyakitimu. Di akhirat nanti justru hujan api!" Alhamdulillah, malasku langsung hilang dengan berfikir seperti itu. Benar bila adalah pepatah guru yang sebenar-benarnya guru adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita berfikir dan melakukan yang baik-baik untuk hari esok yang lebih baik.
Setelah jeda adzan Isya sedikit lama aku lekas bergegas, tak tau ada firasat apa tiba-tiba kubawa dan pakai kacamataku. Biasanya aku paling malas kalau ke mushola berjamaah dan harus membawa, memakai kacamata. Terlalu ribet, rempong!  Inilah nasib penderita mata minus!
Seperti biasanya, sepi. Dapat terhitung jamaah pria dan wanitanya, sama dengan shalat semua waktu kecuali Maghrib yang harus berdesakan keluar sampai terasnya mushola. Aku paling muda di antara dua mbah-mbah, yang satu bu nyai istrinya pak kyai. Ya, kami selalu berjamaah berempat, para wanita yang setia menjadi ma'mumnya pak imam di mushola kami.
Shalat Isya pun dimulai, seperti biasanya setelah salam terakhir adalah dzikir yang walaupun hanya istighfar dan tahlil jangan sampai aku meninggalkan. Sesibuk dan setergesa-gesanya aku, alhamdulillah Allah selalu berikan kesempatan di setiap selesai sholatku.
Namun malam ini setelah dzikir dan doaku selesai, dan takbiratul ihram sunah ba'diyah tiba-tiba mati lampu men!!!! Dyar! Pikiranku kacau, ini pulangnya bagaimana?! Sangat gelap bahkan fikiranku mulai horor, sudah hujan rintik-rintik tambah mati lampu. Kulirik sebelahku bu nyai masih kusyu' dzikir, pikirku mungkin nanti beliau ditunggu pak imam suaminya. Mbah yang di sampingku aku juga memikirkannya! Sudah sepuh rumahnya lumayan jauh, oh kenapa harus mati lampu Ya Allah!! Entahlah shalat sunahku tadi tidak fokus padaMu, aku hanya fokus sama mati lampu-gelap ditambah luar hujan. Semoga Kau mengampuni hambaMu yang amat sangat kerdil ini. Dan ternyata kacamata yang tidak sengaja terbawa lalu terpakai tadi adalah salah satu bentuk pertolonganMu Ya Allah. Aku tertolong di gelapnya mati lampu dan rintik hujan, aku bisa pulang dengan melihat mendungmu yang sedikit terang.
Lalu, setelah sampai rumah? Masih kepikiran. Ya Allah semoga Kau permudahkan orang-orang lainnya yang pulang terakhir saat berjamaah tadi. Bu nyai sekalian serta mbah-mbah yang rumahnya lumayan jauh! Semoga malam ini dapat menjadi pelajaran untuk pribadiku khususnya.
Bahwa pertolongan Allah itu dekat, hanya saja kau harus lebih mendekatiNya.
Shodaqollahul'adzim - semoga bermanfaat para pengunjung blog yang budiman!

Sabtu, 26 November 2016

Bila Waktu...

Bude, aku datang berkunjung ke rumahmu...
bersama adik, anak dan cucumu. Aku masih lupa-lupa ingat tentangmu, kau adalah anaknya simbah yang dilebihkan! Sudah cantik, kaya pula.
Sebenarnya hari ini aku berencana pergi kerumah temenku, tapi anaknya bude mengajakku untuk ziarah. Tak bisa kutolak, walaupun aku ini orangnya penakut akhirnya berangkatlah ke makam!
Aku bersama ibu dan ponakanku bersama anaknya bude. Sepi, namanya kuburan! Ku pelankan langkahku, kuucapkan salam untuk semua penduduknya. Mataku tidak lepas dari namanya nisan-nisan yang sedikit berantakan. Kucari nisan yang bertuliskan nama budeku, "lho kok masih ada namanya?", ternyata nisannya diganti baru!
Setelah selesai tabur bunga dan berdoa untuk bude, si ponakan yang demen banget foto minta difotoin di deket makam mbahnya! Ada rasa tidak enak hati dengan penduduknya! Bagaimana mereka mengutuki kelakuan kami, tapi percayalah niat kami baik! Semua ini untuk mengingat kematian yang sebentar lagi kamipun akan menyusul kalian! Teriakku dalam hati.
Ponakanku hobi sekali menakut-nakuti, saat kaki ini melangkah menghindari supaya tidak menginjak-injak tengahnya nisan. Bilang ada tengkoraklah, kain kafan keluar dikitlah, ampunn!!! Setelah ke makam bude beberapa langkah lagi kami ke makam 4 orang lagi. Yaitu kedua simbahku dan bude yang baru bulan April kemarin meninggal serta suaminya di sebelah makamnya. Aku dibuat bingung dengan anaknya bude, acara apa kok tiba-tiba ziarah ke makam beberapa kerabat.
Aku belum menemukan jawabannya! Ibuku aku tanya cuma jawab kalau hari ini naasnya bude, lha tapi kok ke simbah juga? Jawabnya ibuku simpel, "sisan mampir"!
Benar buk, mampir ! Bahkan sekarang kita semua ini cuma mampir ngombe.
Aku berpesan pada diriku sendiri "hari ini yang tanpa rencana, tanpa kamu tau, kamu tiba-tiba mengunjungi budemu yang sudah mati! Lalu berpikirlah! Walau seribu kali kamu berpikir tapi kamu belum menemukan jawabannya, tetaplah berfikir untuk menemukannya! Ada banyak pelajaran untuk mereka yang berakal, untuk mereka yang mau berfikir! "Kamu hari ini mengunjungi budemu, kamupun kelak juga akan dikunjungi oleh keluargamu oleh kerabat dekatmu! Lalu kenapa kamu masih menyombongkan diri menuruti diri, egomu yang tak pernah berhenti untuk mengerti bahwa hidupmu di dunia ini sebentar!  Berhentilah dari angan-angan setan yang menyesatkan! Kau tidak tau kapan kau akan meninggalkan kenyataan! Kau tidak pernah diberitau! Kau ini cuma tanah! Yang akhirnya dinjak-injak! Masihkah berfikir tentang harga diri? ", mashaallah ampuni aku. Aku sudah terlalu jauh mengartikan sebuah kata harga diri. Yang sebenarnya adalah yang harus aku cari di hadapanMu bukan di hadapan para makhlukMu! Terimakasih untuk hari ini telah memberi kesempatan sowan ke kuburan. Semoga kami semua selalu dalam naungan rahmatMu dan menjadi hamba yang selalu mengingat kematian serta tidak lalai untuk menuju jalan lurusMu.aamiin

Kamis, 17 November 2016

Ketulusan yang Sebenarnya

Pada zaman nabi, di sebuah sudut Kota Madinah ada seorang pengemis buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan pernah kau dekati Muhammad. Dia itu orang jahat, pembohong dan tukang sihir. Jika kalian mendekatinya, maka kalian akan dipengaruhinya".

    Tiada hal lain yang dilakukan si pengemis kecuali menengadahkan tangan dan meneriakkan kata- kata itu berulang kali. Namun demikian, setiap hari selalu ada seorang pria yang mendatangi pengemis itu dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah katapun, pria itu selalu menyuapkan makanan yang ia bawa dengan penuh kasih sayang kepada si pengemis. Pengemis pun berkata kepada pria itu “Wahai sahabatku, jangan pernah kau dekati Muhammad, dia itu pembohong dan orang jahat..!!

    Suatu ketika pria yang biasanya datang menyuapinya makan itu tidak lagi datang kepadanya. Pengemis buta itu semakin hari semakin lapar, dan bertanya- tanya dalam dirinya, “Apa yang terjadi dengan pria itu..?” Sampai suatu hari ada seorang pria yang datang memberinya makan. Namun saat ia menyuapi sang pengemis, ia justru marah sambil menghardik : “Siapa kamu..? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”. “Aku adalah orang yang biasa”, kata orang itu. Pengemis pun menjawab, “Tidak mungkin, kamu pasti bohong”.

    Apabila Ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasanya datang selalu mengusap rambutku terlebih dahulu. Selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, sehingga tak sulit mulut ini mengunyah. Mendengar jawaban dari pengemis buta tersebut, pria tadi tidak sanggup menahan air matanya. Sambil menangis Ia berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang berhati mulia yang biasa menyuapimu adalah Rosulullah Muhammad saw.

    Pengemis buta itu langsung terkejut. Tubuhnya bergetar dan tidak ada kata- kata yang keluar dari mulutnya. Air matanya kemudian mengalir begitu deras di pipi, seolah tak terbendung mengenang manusia berhati mulia, Muhammad saw. Pada saat itu juga si pengemis itu masuk islam. Subhanallah…

----------
Teman… kerasnya batu memang bisa dihancurkan dengan lembutnya air. Kerasnya hati manusia pun dapat diluluhkan dengan ketulusan dan kasih sayang. Semua hanya butuh 1 kata yang bernama “kesabaran”. Nilai suatu kesabaran yang sebenarnya tak terbatas, hanya kita saja yang kadang selalu “membatasinya”. Sehingga tak jarang banyak orang yang berrkata : “Oh, kesabaranku sudah habis”..!! padahal kesabaran itu tak terbatas, sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan.

Life simply, Love generously, Care deeply, and Speak kindly.