Seperti hari-hari sebelumnya, jika tidak sedang keluar rumah shalat Isya berjamaah adalah hal yang biasa kulakukan. Bukan di masjid tapi di sebuah mushola kecil yang cukup menampung beberapa jamaah yang banyaknya hanya di waktu Maghrib saja.
Malam ini hujan rintik-rintik di luar tak menyulutkan niatku untuk pergi berjamaah. Aku katakan pada diriku, "ini hanya hujan rintik dan hujan air, itu semua tidak akan menyakitimu. Di akhirat nanti justru hujan api!" Alhamdulillah, malasku langsung hilang dengan berfikir seperti itu. Benar bila adalah pepatah guru yang sebenar-benarnya guru adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita berfikir dan melakukan yang baik-baik untuk hari esok yang lebih baik.
Setelah jeda adzan Isya sedikit lama aku lekas bergegas, tak tau ada firasat apa tiba-tiba kubawa dan pakai kacamataku. Biasanya aku paling malas kalau ke mushola berjamaah dan harus membawa, memakai kacamata. Terlalu ribet, rempong! Inilah nasib penderita mata minus!
Seperti biasanya, sepi. Dapat terhitung jamaah pria dan wanitanya, sama dengan shalat semua waktu kecuali Maghrib yang harus berdesakan keluar sampai terasnya mushola. Aku paling muda di antara dua mbah-mbah, yang satu bu nyai istrinya pak kyai. Ya, kami selalu berjamaah berempat, para wanita yang setia menjadi ma'mumnya pak imam di mushola kami.
Shalat Isya pun dimulai, seperti biasanya setelah salam terakhir adalah dzikir yang walaupun hanya istighfar dan tahlil jangan sampai aku meninggalkan. Sesibuk dan setergesa-gesanya aku, alhamdulillah Allah selalu berikan kesempatan di setiap selesai sholatku.
Namun malam ini setelah dzikir dan doaku selesai, dan takbiratul ihram sunah ba'diyah tiba-tiba mati lampu men!!!! Dyar! Pikiranku kacau, ini pulangnya bagaimana?! Sangat gelap bahkan fikiranku mulai horor, sudah hujan rintik-rintik tambah mati lampu. Kulirik sebelahku bu nyai masih kusyu' dzikir, pikirku mungkin nanti beliau ditunggu pak imam suaminya. Mbah yang di sampingku aku juga memikirkannya! Sudah sepuh rumahnya lumayan jauh, oh kenapa harus mati lampu Ya Allah!! Entahlah shalat sunahku tadi tidak fokus padaMu, aku hanya fokus sama mati lampu-gelap ditambah luar hujan. Semoga Kau mengampuni hambaMu yang amat sangat kerdil ini. Dan ternyata kacamata yang tidak sengaja terbawa lalu terpakai tadi adalah salah satu bentuk pertolonganMu Ya Allah. Aku tertolong di gelapnya mati lampu dan rintik hujan, aku bisa pulang dengan melihat mendungmu yang sedikit terang.
Lalu, setelah sampai rumah? Masih kepikiran. Ya Allah semoga Kau permudahkan orang-orang lainnya yang pulang terakhir saat berjamaah tadi. Bu nyai sekalian serta mbah-mbah yang rumahnya lumayan jauh! Semoga malam ini dapat menjadi pelajaran untuk pribadiku khususnya.
Bahwa pertolongan Allah itu dekat, hanya saja kau harus lebih mendekatiNya.
Shodaqollahul'adzim - semoga bermanfaat para pengunjung blog yang budiman!
Blog yang tidak penting. Judulnya saja malei, apalagi isinya. Semua yang ada di pikiran, saya tuangkan. Tulisan seperti panggilan kejiwaan. Tertoreh njlimet ngasi mumet. Blog ini saya buat untuk media belajar apapun bidangnya kecuali Matematika (sering gapake logika haha). Apapun itu tulisan saya, insyaAllah ada pelajaran di dalamnya. Apabila ada kesamaan dalam hal apapun itu, saya pribadi mohon maaf sekali. Dan akhirnya, ayo nge-blog kawan. Semoga bermanfaat. Aamiin ~
Senin, 28 November 2016
Firasat Membawa Nikmat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar