Tuhan... Kau tau aku mencintaimu belum sepenuhnya cinta. Buktinya aku masih belum memiliki rasa takut untuk melakukan hal yang Kau larang ketika aku sendiri. Maka ampuni aku dan kesendirianku!
Tuhan... Begitu rumit jalan hidup di dunia yang harus kulalui. Namun aku selalu percaya, selalu yakin akan ada hikmah di balik musibahMu. Aku yakin Kau sebaik-baik Pencipta jalanku ini.
Tuhan, aku hanya ingin kembali ke jalanMu yang lurus! Jalannya orang-orang Yang Kau beri petunjuk! Kau beri cahayaMu! Kau beri rasa aman dan bahagia dunia akhirat! Aku tau ini jalan sulit, maka pelan tapi pasti bimbinglah aku! Permudahkan dengan melihat niat tulusku yang sungguh ingin menujuMu, hanya namaMu Yang Haq!
Tuhan... Apa penyesalan ini sama dengan beban? Jika iya, bukankah ini akan segera berakhir Tuhan? DuniaMu kan tidak kekal.
Tuhan... Jika penyesalanku ini belum cukup untuk membuktikan bahwa aku ingin kembali ke jalanMu, maka ambillah apapun yang berharga dariku. Namun sungguh, aku tak memiliki itu semua! Aku sadar aku hanya sendiri, tak memiliki apapun apalagi yang berharga sekalipun! Semua milikMu, Semuanya! Bahkan aku termasuk deretan orang-orang yang kufur akan nikmatMu, selalu mengeluh tanpa melihat bahwa setiap detik nikmatMu selalu menyertaiku. Aku bahkan hamba yang tidak melihat karena buta bahwa setiap pagi Kau bangunkan aku, Kau jaga malamku hingga pagi lagi, Kau pinjami oksigen juga kesehatan, lalu kenapa hanya ketika sakit? hanya ketika aku dalam ketakutan ? Baru aku bisa mengingat itu semua. Kau benar bahwa demi masa, manusia selalu dalam kerugian.
Tuhan... Kuatkan aku dalam kesendirian. Aku ingin mengerti bahwa kesendirian adalah teman hidup dan matiku. Saat berada di alam rahim ibuku bukankah aku sendiri? Lalu benar bukan bahwa dunia ini untuk mencari bekal juga untuk diri-sendiri? Saat pintu gerbang akhirat atau perkampungan kubur menanti kesendirianku, aku sadar aku tak butuh siapapun dan apapun selain Engkau! Aku sangat sangat amat takut akan siksaMu yang kekal disana! Maka peringatkan aku jika kesakitanku saat ini tidak ada apa-apanya dibanding siksaMu kelak.
Tuhan... Aku harus bersyukur kan, Kau tidak keterlaluan membiarkan salah langkahku. Kau masih memberi waktu aku untuk merasakan pahit manisnya penyesalan. Demi Kau yang jiwaku berada di genggamanMu, jika manusia di sekitarku mampu mendengar otakku dia akan berteriak-teriak Tuhan! "SUNGGUH AKU LELAH MEMIKIRKAN!!!". Teriak otakku. Dia keterlaluan memikirkan yang namanya makhluk! Makhluk itu orang baik hati yang sedang marah. Aku tak tau sampai kapan kemarahan itu!
Karena yang aku tau adalah Kau Yang Maha Tau, Kau Yang Maha membolak-balik hati manusia, Yang Mengatur jalan keluarnya masalah. Maka aku berserah diri padaMu, bagaimanapun nanti jalanMu supaya aku sembuh dan tidak kembali lelah.
Tuhan... Aku juga ingin berterimakasih pada orang baik itu. Tanpa sadar aku jadi mengerti bahwa dia melakukan yang dia mau, dan aku hanya harus lebih dekat denganMu bukan? Ya, seringkali aku menangis di setiap ruku' sujudku, aku mengingat setiap kesalahanku padanya, aku berdiri shalat untukMu dengan hina dinanya diriku di masa lalu, takut akan siksa-siksaMu sebentar lagi kan menghampiri; aku membayangkan ini shalat terakhirku; aku membayangkan kaki ini berdiri berada di licinnya dan tajamnya ShiratMu; aku membayangkan setelah salam terakhir malaikat izrafil menjemputku! Sulitnya keluar nyawaku karena aku bukan hamba yang baik! Aku takut Tuhan! Sungguh aku harus menikmati setiap moment itu! Itu adalah kewajibanku yang selama ini kusepelekan! Aku harus bersyukur akan semua itu, karena dengan itu semua aku sadar inilah rasa manisnya dekat denganMu! Hanya denganMu Tuhan!
Tuhan... Apakah kejujuran harus berakhir dengan yang namanya beban? Apa ini berarti Kau berpesan padaku supaya aku "jangan sampai berputus asa dari rahmatMu?" Atau ini adalah ganjaran supaya aku jera Tuhan? Tapi Tuhan, aku hanya ingin tetap menjaga sesuatu yang Kau senangi yang bernama silaturahmi. Sabda NabiMu, "Di surga kelak akan ada pintu silaturahmi. Jika kau ahlinya, maka kau akan dipanggil dari pintu tsb". Tuhan, aku pun kelak ingin dipanggil dari pintu itu! Jika jawabanMu iya, maka aku bisa apa? Selain ridho dengan ketentuanMu, ridho dengan segala apapun yang Kau berikan demi kebaikanku.
Tuhan... akhirnya aku hanya minta istiqomahkan aku untuk tetap memperbaiki diri dan shalatku. Karena hanya itu bekal untuk kesendirianku kelak. Berikan selalu aku rasa takut akan siksaMu Yang kekal agar sisa umur ini terarah ke surgaMu. Biarlah sekarang aku hidup di nerakaMu, dunia yang fana dan memilih surga akhiratMu Yang Kekal. Subhanakallahumma wabihamdika ashadualla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubuu ilaih. Shodaqollahul adzim... aamiin yaa robbal alamin.
Blog yang tidak penting. Judulnya saja malei, apalagi isinya. Semua yang ada di pikiran, saya tuangkan. Tulisan seperti panggilan kejiwaan. Tertoreh njlimet ngasi mumet. Blog ini saya buat untuk media belajar apapun bidangnya kecuali Matematika (sering gapake logika haha). Apapun itu tulisan saya, insyaAllah ada pelajaran di dalamnya. Apabila ada kesamaan dalam hal apapun itu, saya pribadi mohon maaf sekali. Dan akhirnya, ayo nge-blog kawan. Semoga bermanfaat. Aamiin ~
Selasa, 22 November 2016
Suara Kerdil untuk Tuhan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar