Kucing itu bukan kucing rumahan, tak ada yang memilikinya. Tampak kotor, kumuh tak terawat dan berjenis kelamin betina. Setiap hari kulihat dia selalu mengeong paling tidak untuk mencari anak-anaknya yang lucu, keisenganku adalah aku suka melihat anak-anaknya yang unyu dan jika ibunya tidak ada maka si kucing anak-anak kupindah tempat. Aku lebih suka menyentuh, membelai anak-anaknya. Setelah ibunya pulang, maka mau tak mau aku harus pergi dari si anak-anak kucing itu. Begitu seringnya hal itu kulakukan hingga hari ini, aku merasa benar-benar kehilangan sosok kucing yang kumuh kotor itu.
Pagi tadi kucing itu tertabrak motor di depan rumah, rasanya benar-benar sedih. Aku tau aku tak kan lagi menemukan pemandangan yang seperti kemarin. Aku tidak suka jika melihat si kucing kotor itu lewat, tapi kenapa hari ini saat kucing itu tidak nampak lagi rasa kehilangan itu... yaa Allah! Apakah ini yang namanya akhir dari sebuah penyia-nyiaan? Saat ada aku begitu tidak peduli; tidak suka; bahkan tidak nyaman saat melihatnya. Namun, saat benar-benar kucing itu telah pergi untuk selamanya; menghilang dari sekitarku; aku kehilangan suara nyaringnya saat mencari anak-anaknya. Aku kehilangan saat dimana aku lari karena si ibu kucing telah datang, sekarang aku tak perlu takut lagi untuk membelai anak-anaknya. Karena si ibu sudah pergi.
Tapi siang sedikit tiba-tiba kucingku, Shilo. Setelah nglayap dia pulang dengan membawa seekor kucing kecil yang berdarah, oh Allah ternyata ini anaknya kucing yang ditabrak tadi! Ikut mati.
Sehari ibu dan anak kucing pergi, setelah ibunya tadi pagi siangnya sang anak. Aku berfikir kenapa bisa begitu? Adakah pelajaran untukku di dalamnya? Pasti, ada. Sejenak aku merenung. Pelajaran yang dapat diambil adalah:
1. Setiap yang bernyawa pasti mati
2. Bagaimanapun kamu tidak menyukai sesuatu, jika sesuatu itu pergi dan tak akan lagi kamu temui, tak kan lagi kembali, menghilang selamanya, kamupun akan merasa kehilangan.
3. Begitu kuatnya hub.an ibu dan anak kucing, setelah kematian ibu sang anak menyusul. Kamu harus ambil pelajaran bahwa apapun masalahmu, nomor satu adalah restu ibu. Ibu yang melahirkanmu, malaikat yg Dia kirim untukmu. Hormati ibumu, jangan berkata kasar, jangan membentak! Kita belum merasakan sakitnya dibentak anak, kasihi ibumu! Tempatkan beliau di nomor satu apapun masalahmu!
4. Kematian datang tiba-tiba. Ya, tiba-tiba setelah si ibu kucing lalu menyusul anaknya. Semua datang tiba-tiba. Tiba-tiba kamu di kubur, beralaskan papan berpakaian kafan. Berada di kegelapan, di bawah hujan. Bekal apa yang sudah kamu persiapkan untuk sebuah kesendirian menghadap Tuhan? Sungguh aku malu padaMu, lidahku kelu untuk menjawabnya. Aku masih saja berproses, aku masih mengais bahkan masih mengemis dengan bekalku itu. *semoga bermanfaat!
Blog yang tidak penting. Judulnya saja malei, apalagi isinya. Semua yang ada di pikiran, saya tuangkan. Tulisan seperti panggilan kejiwaan. Tertoreh njlimet ngasi mumet. Blog ini saya buat untuk media belajar apapun bidangnya kecuali Matematika (sering gapake logika haha). Apapun itu tulisan saya, insyaAllah ada pelajaran di dalamnya. Apabila ada kesamaan dalam hal apapun itu, saya pribadi mohon maaf sekali. Dan akhirnya, ayo nge-blog kawan. Semoga bermanfaat. Aamiin ~
Selasa, 06 Desember 2016
Belajar dari Kematian Kucing
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar